, ,

Suasana Mencekam di Wisma Sidrap, 25 Menit Terakhir Berujung Tragedi Berdarah

by -3404 Views

25 Menit Terakhir di Wisma Sidrap: Dari Kesepakatan Bisnis Menjadi Tragedi Berdarah

NEWS BARRU– Suasana Jumat malam di Wisma Grand Duapitue, Sidrap, Sulawesi Selatan, pada 5 September 2025 seharusnya seperti malam-malam sebelumnya. Suasana yang sunyi, hanya diselingi derum motor yang lewat dan bisik-bisik biasa dari balik pintu kamar. Namun, malam itu berbeda. Dalam sebuah kamar sempit bertarif Rp600 ribu, sebuah kesepakatan bisnis sederhana antara dua orang dewasa berubah menjadi adegan pembunuhan yang mengerikan, memicu sebuah perburuan intensif yang puncaknya adalah pengakuan publik dari seorang Kapolda.

Awal yang Sederhana, Akhir yang Mengerikan

Semuanya bermula dari sebuah transaksi. Sebuah janji untuk satu jam waktu bersama, dengan kebebasan untuk “main dan bebas keluar”. Perempuan berusia 34 tahun itu dan lelaki 31 tahun bernama Yunus alias Bampe menyepakati tarifnya: Rp600 ribu. Itu adalah kesepakatan dua insan dewasa yang saling memahami permainannya.

35 menit telah berlalu. Suasana yang awalnya mungkin biasa saja, tiba-tiba berubah tegang. Perempuan itu meminta bayaran penuh, Rp600 ribu. Bagi Yunus, waktu belum habis. Masih ada 25 menit yang tersisa, sebuah durasi yang dalam pikirannya masih bisa dimanfaatkan. Ia merasa dirugikan. Permintaan bayaran penuh itu ditolaknya mentah-mentah. Negosiasi pun terjadi di ruang pengap itu. Yunus menawarkan separuhnya, Rp300 ribu, sebagai kompensasi untuk waktu yang belum genap.

Suasana Mencekam di Wisma Sidrap, 25 Menit Terakhir Berujung Tragedi Berdarah
Suasana Mencekam di Wisma Sidrap, 25 Menit Terakhir Berujung Tragedi Berdarah

Baca Juga: Suasana Haru dan Takjub Penuhi Pelataran Masjid, Santri Wajo Terinspirasi Perjalanan Hidup Bupati Sidrap

Tawaran itu ditolak. Kata-kata membentur dinding, emosi mulai memanas. Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah ledakan amarah yang tak terkendali. Leher perempuan itu dicekik kuat-kuat oleh Yunus. Korban, berusaha mempertahankan nyawanya, melawan. Tangannya menggigit lengan pelaku. Rasa sakit dari gigitan itu bagai menyulut bara amarah yang sudah membara. Ia menjadi kalap.

Dari suatu tempat, Yunus mengeluarkan senjatanya: sebuah badik kecil, senjata khas Sulawesi yang mematikan. Panjangnya hanya sejengkal, tetapi cukup untuk menghabisi nyawa. Sekali hunus, tanpa pikir panjang, badik itu dihujamkannya ke leher korban. Separuh bilahnya masuk, menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Darah muncrat deras, membasahi lantai dan dinding kamar. Jeritan terakhir korban tercekat dalam dadanya. Ia ambruk, tergeletak, dan meninggal seketika di tempat—dalam 25 menit terakhir yang berubah menjadi petaka.

Suami di Luar Pintu dan Pelarian dalam Gelap

Di luar, suami korban, Adnan, yang belakangan disebut telah kembali dekat dengan almarhumah, mendengar suara gaduh dari dalam kamar. Detak jantungnya mungkin berdegup kencang, didorong oleh firasat buruk. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar itu, berusaha mengetahui apa yang terjadi. Ketika pintu akhirnya terbuka, yang menyambutnya adalah pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya: sang istri terbaring tak bernyawa, lehernya berlumuran darah.

Yunus, yang masih diliputi adrenalin dan panic, mendorong Adnan dan kabur. Ia melesat keluar dari wisma, hanya mengenakan singlet putih, meninggalkan bayangan di tujuh buah CCTV yang terpasang. Ironisnya, tak satu pun kamera pengawas itu merekam wajahnya dengan jelas. Hanya sosok tubuhnya yang terlihat, seorang lelaki bersinglet putih yang tergesa-gesa menuju motor bututnya, lalu menghilang ditelan kegelapan malam Sidrap.

Desas-desus dan Mobilisasi Pasukan Khusus

Keesokan harinya, kabar burung menyebar cepat seantero Sidrap. Ada pembunuhan di wisma murah. Seorang perempuan ditikam sampai tegas. Seorang lelaki kabur. Spekulasi pun bermunculan: perselingkuhan? Masalah utang piutang? Dendam lama? Misteri itu semakin pekat karena CCTV yang gagal memberikan identitas jelas pelaku. Hanya tubuh, bukan wajah.

Namun, Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, bukan tipe orang yang menunggu laporan datang. Ia tidak duduk manis di balik meja kerjanya. Begitu laporan ini sampai, ia langsung turun tangan memimpin sendiri penyelidikan. Ia menyadari ini adalah kasus yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan sebelum pelaku benar-benar menghilang.

Dengan segera, ia memobilisasi tim terbaiknya. Sebuah pasukan gabungan dibentuk dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim AKP Setiawan Sunarto. Tim ini diperkuat oleh Kanit Resmob IPDA Junaidi Khadafi, 15 anggota Resmob Sidrap, 2 personel dari Polsek Duapitue, 4 orang dari Intelkam, dan bahkan 4 anggota Resmob dari Polres Wajo—menunjukkan betapa seriusnya penanganan kasus ini. Jejak digital, saksi-saksi, dan pergerakan terakhir korban dianalisis dengan cermat.

Perburuan yang Berbuah Hasil

Perburuan terhadap “Bampe” pun dimulai. Teknologi dan metode penyelidikan tradisional digabungkan. Tekanan terhadap jaringan yang mungkin melindungi pelaku dilakukan. Masyarakatakat diimbau untuk memberikan informasi. Tim penyidik bekerja tanpa henti, melacak motor butut dan sosok bersinglet putih itu.

Usaha keras itu akhirnya membuahkan hasil. Dalam waktu yang relatif singkat, Yunus alias Bampe berhasil dilacak dan ditangkap. Ia tidak bisa berlari jauh dari jerat hukum. Pengakuan pun diperoleh, mengungkap alasan di balik pembunuhan tragis itu: emosi yang meledak akibat perselisihan tarif dan waktu.

Kapolda Turun Tangan dan Ucapan Terima Kasih

Kesuksesan penanganan kasus yang cepat dan tepat ini tidak luput dari perhatian pimpinan tertinggi kepolisian di daerah tersebut. Kapolda Sulsel, dalam suatu kesempatan, secara khusus menyampaikan apresiasinya.

“Atas nama pimpinan, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kapolres Sidrap beserta jajaran yang telah bekerja keras menangani kasus pembunuhan di Wisma Grand Duapitue. Kerja cepat dan profesionalisme yang ditunjukkan patut diacungi jempol. Ini membuktikan bahwa Polri hadir untuk memberikan rasa aman dan keadilan bagi seluruh masyarakat,” ujar Kapolda.

Pengakuan dari Kapolda ini bukan sekadar formalitas. Ia adalah penegasan bahwa kejahatan, sekecil apapun dan di manapun terjadi, akan ditindak dengan tegas. Kasus yang berawal dari 25 menit naas di sebuah kamar wisma murah itu berakhir dengan diringkusnya pelaku, berkat ketegasan seorang Kapolres yang turun langsung dan kerja tim yang solid. Tragedi di Sidrap ini menjadi pelajaran pahit tentang bagaimana emosi yang tak terkendali dapat menghancurkan segalanya dalam sekejap, tetapi juga menjadi bukti bahwa hukum tidak akan tidur untuk menegakkan keadilan.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.