Dugaan Pemicu Oknum TNI Lepas Tembakan 3 Kali di Mapolres Selayar: Akumulasi Emosi dan Miskomunikasi yang Meledak
NEWS BARRU– Suara tiga letusan senjata api mengoyak kesunyian malam di Mapolres Kepulauan Selayar. Bukan berasal dari latihan militer atau aksi preman, melainkan dari oknum anggota TNI yang, dalam keadaan emosi tinggi, nekat melepaskan tembakan di halaman markas kepolisian. Insiden yang jarang terjadi dan sangat sensitif ini, yang berlangsung pada akhir pekan lalu, bukanlah aksi spontan tanpa sebab. Ia adalah puncak gunung es dari akumulasi emosi, miskomunikasi, dan rasa solidaritas yang salah tempat.
Berdasarkan penelusuran dari pernyataan resmi kedua institusi, Polri dan TNI, terkuaklah sebuah rangkaian peristiwa yang bermula dari sebuah kecelakaan lalu lintas biasa, yang kemudian memicu ketegangan luar biasa.
Akar Masalah: Kecelakaan yang Memicu Amarah
Cerita ini berawal pada tanggal 12 Agustus 2025. Sebuah insiden kecelakaan lalu lintas (laka lantas) terjadi di Selayar. Mobil yang dikendarai oleh Aipda MT, seorang anggota Polres Selayar, terlibat dalam kecelakaan dengan dua orang ibu-ibu. Menurut versi yang disampaikan oleh Dandim 1415 Selayar, Letkol Czi Yudo Harianto, korban kecelakaan bukanlah warga biasa. Mereka memiliki hubungan keluarga dengan salah seorang anggota Kodim 1415 Selayar.

Baca Juga: Getar Mesin dan Semangat Muda Warnai Pembukaan Honda Dream Cup 2025 di Sidrap
Lebih lanjut, Dandim Yudo menambahkan narasi yang memperkeruh suasana. Usai kejadian, korban sempat dievakuasi ke UGD dengan pendampingan personel Polres. Namun, dalam situasi yang sudah tegang, pengemudi mobil (Aipda MT) disebutkan sempat mengancam dan mengajak berkelahi. Detail inilah yang kemungkinan besar menjadi bensin yang memicu kemarahan di internal keluarga dan rekan-rekan sang anggota TNI. Mereka merasa rekan mereka tidak hanya dirugikan secara materi dan fisik, tetapi juga dihina dan diancam.
Respon Polisi: Klaim Prosedural dan Transparan
Di sisi lain, Kepolisian Resor Selayar bersikukuh bahwa mereka telah menangani kasus ini dengan sangat serius dan sesuai prosedur sejak awal. Melalui Kasi Humas Polres Selayar, Aipda Suardi Alimuddin, polisi memberikan versi mereka.
Begitu laporan kecelakaan diterima, Kapolres Selayar, AKBP Didid Imawan, langsung memerintahkan untuk memproses kasus tersebut. Yang menarik, Kapolres bahkan memerintahkan penahanan terhadap Aipda MT, sang pengemudi, sebelum beliau mengetahui bahwa korban memiliki hubungan keluarga dengan anggota TNI. Artinya, penahanan ini murni berdasarkan prosedur pidana lalu lintas, tanpa ada unsur tebang pilih.
Tidak berhenti di sana, Kapolres juga memerintahkan pemeriksaan internal melalui Propam (Divisi Profesi dan Pengamanan). “Jadi disamping pidananya, laka lantasnya jalan, disiplinnya juga jalan di propam,” tegas Suardi. Langkah ini menunjukkan upaya Polres untuk menangani kasus ini tidak hanya dari aspek hukum pidana tetapi juga dari aspek kedisiplinan internal.
Miskomunikasi: Bahan Bakar yang Menyulut Ledakan
Di sinilah titik kritisnya. Meski polisi telah bergerak cepat dengan menahan rekannya sendiri, informasi ini rupanya tidak sampai, atau tidak dipahami dengan benar, oleh pihak keluarga korban dan rekan-rekan di Kodim Selayar.
Menurut Humas Polres, terjadi “miskomunikasi”. “Ini kayaknya teman dari Kodim itu salah mendapatkan informasi gitu. Jadi miskomunikasi saja mungkin dikira tidak diproses padahal sudah ditahan,” beber Suardi.
Dugaan kuatnya, yang sampai ke telinga anggota TNI adalah narasi tentang “rekan satu institusi yang dizalimi dan ancaman yang tidak ditindaklanjuti polisi.” Narasi ini, yang beredar dari mulut ke mulut tanpa konfirmasi resmi, memanaskan emosi. Rasa solidaritas dan kekeluargaan yang kuat di lingkungan militer kemudian berubah menjadi amarah kolektif yang buta.
Aksi Nekat: Geruduk Mapolres dan Tembakan Peringatan
Akumulasi dari emosi dan informasi yang salah ini akhirnya meledak. Tiga anggota TNI tersebut, didorong oleh rasa membela rekan dan keluarga, kemudian mengambil langkah yang sangat tidak proporsional dan di luar prosedur: mendatangi Mapolres Selayar.
Tujuan mereka diduga untuk melakukan konfrontasi. Dalam situasi emosi yang memuncak, salah satu dari ketiganya kemudian melepaskan tembakan sebanyak tiga kali. Tembakan ini diduga merupakan tembakan peringatan atau bentuk pelampiasan kemarahan yang tidak terkendali, bukan dengan maksud membunuh. Namun, bagaimanapun niatnya, aksi melepaskan tembakan di lingkungan mapolres adalah pelanggaran berat yang sangat serius dan berbahaya.
Pernyataan Damai dan Proses Hukum Berjalan
Menanggapi insiden yang bisa merusak hubungan TNI-Polri ini, kedua pimpinan institusi tampak berusaha meredakan dan menekankan bahwa ini adalah tindakan oknum.
Dandim Yudo membenarkan bahwa tiga anggotanya mendatangi Mapolres dan menyatakan bahwa insiden ini adalah “akumulasi” dari kejadian kecelakaan tersebut. Pengakuan ini secara tidak langsung mengonfirmasi alur cerita yang dibangun.
Sementara itu, Polres melalui Humasnya terus menegaskan bahwa proses hukum untuk kasus kecelakaan Aipda MT tetap berjalan tanpa intervensi. “Anggota Polres yang terlibat kecelakaan sudah diproses sesuai prosedur,” pungkas Suardi.
Analisis: Pelajaran dari Selayar
Insiden di Selayar ini memberikan beberapa pelajaran penting:
-
Bahaya Miskomunikasi: Dalam era informasi cepat, miskomunikasi dan informasi yang tidak utuh bisa menjadi pemicu konflik yang dahsyat, bahkan antar-institusi negara. Koordinasi dan klarifikasi antar-aparat keamanan mutlak diperlukan.
-
Emosi vs Profesionalisme: Solidaritas adalah hal yang baik, tetapi harus dikelola dengan profesionalisme. Tindakan main hakim sendiri, apalagi dengan menggunakan senjata, tidak dapat dibenarkan dan justru merusak martabat institusi.
-
Prosedur Hukum Berjalan: Klaim Polres bahwa mereka telah menahan anggotanya sendiri menunjukkan komitmen untuk penegakan hukum yang adil. Ini harus menjadi standar dan terus diawasi publik.
Kedua institusi, TNI dan Polri, kini harus duduk bersama menyelesaikan dua kasus ini: pertama, kasus kecelakaan lalu lintas yang menjadi akar masalah, dan kedua, kasus yang lebih serius yaitu oknum TNI yang melepaskan tembakan di mapolres. Proses hukum yang transparan dan adil terhadap semua oknum yang terlibat adalah satu-satunya cara untuk memulihkan kepercayaan dan mencegah terulangnya insiden memalukan yang berpotensi memecah belah ini.








