, ,

Memasuki Bulan Maulid Nabi, Harga Telur di Pasar Bulukumba Meroket

by -3056 Views

Momen Maulid Nabi Muhammad SAW dan Fenomena Kenaikan Harga Telur di Bulukumba: Antara Tradisi dan Dinamika Pasar

NEWS BARRU– Memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Bulukumba, bersiap menyambut dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Maulid Nabi. Berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, maulidan, dan sedekah menjadi pemandangan umum yang menyemarakkan bulan penuh berkah ini. Namun, di balik kemeriahan spiritual tersebut, terjadi sebuah dinamika ekonomi yang menarik untuk diamati: kenaikan harga komoditas, khususnya telur.

Sejak Jumat (5/9/2025), pasar-pasar tradisional di Bulukumba mencatat suatu tren yang hampir menjadi ritual tahunan—harga telur ayam mengalami kenaikan signifikan. Fenomena ini bukanlah hal yang kebetulan, melainkan sebuah konsekuensi logis dari meningkatnya permintaan yang dipicu oleh tradisi peringatan Maulid Nabi.

Mengurai Angka: Seberapa Tajam Kenaikannya?

Data dari lapangan menunjukkan kenaikan yang seragam di hampir semua pedagang. Yoga, seorang pedagang telur di Pasar Sentral Bulukumba, memberikan gambaran yang jelas:

  • Telur ukuran kecil naik dari Rp 45.000 menjadi Rp 48.000 per rak.

  • Telur ukuran sedang naik dari Rp 48.000 menjadi Rp 50.000 per rak.

  • Telur ukuran jumbo mengalami kenaikan dari Rp 50.000 menjadi Rp 53.000 per rak.

Artinya, rata-rata terjadi kenaikan sebesar Rp 2.000 – Rp 3.000 per rak. Bagi masyarakat yang biasa membeli dalam jumlah kecil, kenaikan ini mungkin terasa biasa. Namun, bagi panitia pelaksana Maulid yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan rak untuk hidangan dalam acara besar, kenaikan ini tentu menambah anggaran yang harus dikeluarkan.

Akar Permasalahan: Tingginya Permintaan vs Terbatasnya Pasokan

Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi? Penjelasan dari para pedagang, seperti Maemuna, juga seorang pedagang di Pasar Sentral Bulukumba, mengarah pada hukum ekonomi paling dasar: hukum permintaan dan penawaran.

  1. Lonjakan Permintaan (Demand Pull Inflation): Momen Maulid Nabi memicu peningkatan konsumsi telur secara massal. Telur menjadi bahan pilihan utama untuk hidangan dalam acara-acara pengajian dan selamatan karena harganya yang relatif terjangkau, bergizi tinggi, dan mudah diolah dalam jumlah besar. Setiap masjid, majelis taklim, dan keluarga Muslim berlomba-lomba menyelenggarakan acara, yang secara otomatis mendongkrak permintaan telur ke level yang sangat tinggi.

  2. Penyempitan Pasokan: Maemuna mengungkapkan fakta krusial lainnya: pasokan yang menipis. “Sebelumnya rata-rata memesan 200 rak per sekali pengambilan, kini hanya mendapat 70 rak,” ujarnya. Hal ini terjadi karena permintaan tidak hanya berasal dari Bulukumba, tetapi juga datang dari daerah-daerah sekitarnya. Para supplier atau peternak membagi stok telur mereka ke berbagai daerah, sehingga alokasi untuk Bulukumba menjadi berkurang. Ditambah lagi, distribusi yang mungkin terkendala logistik memperparah ketimpangan ini.

  3. Prediksi Masa Depan: Pedagang seperti Maemuna memprediksi bahwa harga masih berpotensi terus merangkak naik, bahkan bisa menembus angka Rp 58.000 – Rp 60.000 per rak seiring dengan puncak peringatan Maulid pada pekan depan, di mana lebih banyak masjid akan menggelar acara.

Memasuki Bulan Maulid Nabi, Harga Telur di Pasar Bulukumba Meroket
Memasuki Bulan Maulid Nabi, Harga Telur di Pasar Bulukumba Meroket

Baca Juga: Sebuah Momen Bersejarah: Bupati dan DPRD Soppeng Sepakati Arah Anggaran 2026

Telur Naik, Beras Stabil, Sayur Turun: Sebuah Perbandingan yang Menarik

Yang membuat analisis ini semakin menarik adalah pergerakan harga komoditas pokok lainnya yang tidak seragam.

  • Beras: Harga beras jenis Cihera dan IR 36/Bromo dilaporkan stabil, tidak mengalami perubahan sejak pekan lalu. Hal ini menunjukkan bahwa stok beras nasional cukup kuat dan permintaannya bersifat konsisten (inelastic) setiap hari, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh event religius tertentu.

  • Sayuran: Justru terjadi penurunan harga pada beberapa komoditas seperti kol dan cabai besar. Kol turun dari Rp 7.000/kg menjadi Rp 10.000/kg (catatan: sepertinya ada typo, mungkin sebelumnya Rp 10.000 turun ke Rp 7.000, atau naik ke Rp 10.000 dari Rp 7.000. Asumsi dari konteks adalah turun). Cabai besar turun dari Rp 30.000/kg menjadi Rp 25.000/kg. Penurunan ini sangat mungkin disebabkan oleh membaiknya kondisi panen atau suplai dari daerah sentra produksi, yang mampu mengimbangi permintaan.

Perbandingan ini mempertegas bahwa kenaikan harga telur di Bulukumba saat ini sangat spesifik dipicu oleh faktor event-driven demand (permintaan karena acara tertentu) dan bukan disebabkan oleh inflasi umum atau masalah struktural pada komoditas telur secara nasional.

Refleksi: Menyikapi antara Ibadah dan Kehidupan Sehari-hari

Fenomena kenaikan harga telur jelang Maulid Nabi mengajarkan kita beberapa hal:

  • Keterkaitan Erat antara Ibadah dan Ekonomi: Aktivitas keagamaan memiliki dampak riil terhadap perputaran ekonomi lokal. Uang yang dikeluarkan untuk membeli telur akan menggerakkan roda ekonomi pedagang, supplier, hingga peternak.

  • Perlunya Perencanaan Keuangan: Bagi panitia acara keagamaan, memahami siklus tahunan seperti ini penting untuk membuat perencanaan anggaran yang lebih matang, termasuk mempertimbangkan untuk memesan barang lebih awal sebelum harga melonjak.

  • Hikmah dalam Berkonsumsi: Sebagai konsumen, masyarakat diajak untuk bijak. Esensi Maulid Nabi bukanlah pada kemewahan hidangan, tetapi pada ketulusan dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW, yang terkenal sederhana dan dermawan. Tidak ada salahnya mencari alternatif menu lain yang lebih terjangkau jika harga telur benar-benar tidak masuk akal.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.